Menjelajahi Kuliner Ikonik Busan: Apa Itu Dwaeji Gukbap? (Panduan Wisata Kuliner Non-Halal di Korea)

 Bagi para penggemar budaya Korea di Indonesia, melihat adegan makan di Drama Korea (Drakor) pasti selalu sukses membuat perut keroncongan. Mulai dari Tteokbokki yang pedas hingga ayam goreng renyah, kuliner Korea selalu menarik untuk dicicipi. Namun, jika Anda berkesempatan mengunjungi kota pesisir Busan di Korea Selatan, ada satu hidangan lokal legendaris yang wajib Anda ketahui: Dwaeji Gukbap (Sup Babi dan Nasi ala Korea).

Catatan Penting: Dwaeji Gukbap adalah hidangan yang terbuat dari daging dan tulang babi, sehingga masuk dalam kategori makanan Non-Halal. Panduan ini ditujukan bagi wisatawan non-Muslim atau mereka yang sekadar ingin mempelajari kekayaan budaya kuliner lokal Korea Selatan.



1. Mengenal Dwaeji Gukbap: 'Soto' Khas Korea yang Menghangatkan Jiwa

Di Indonesia, kita sangat akrab dengan berbagai jenis hidangan berkuah kaldu seperti Soto atau Sop Buntut yang menghangatkan tubuh. Di Korea, Dwaeji Gukbap memiliki peran yang sama. Hidangan ini pada dasarnya adalah sup kaldu berwarna putih susu yang disajikan mendidih, berisi irisan daging babi yang sangat lembut, dan dimakan dengan cara mencampurkan nasi putih langsung ke dalam kuahnya.

Proses pembuatannya membutuhkan dedikasi tinggi. Tulang babi direbus perlahan selama lebih dari 10 hingga 24 jam. Proses lambat inilah yang mengekstrak semua kolagen dan rasa gurih dari tulang, menghasilkan kaldu kental, kaya nutrisi, dan sama sekali tidak amis.


2. Cara Menikmati Dwaeji Gukbap ala Warga Lokal (Mirip Meracik Soto!)

Hal yang paling menyenangkan dari makan Dwaeji Gukbap adalah Anda bisa meracik rasanya sendiri. Saat pesanan tiba, kuah kaldu aslinya memiliki rasa yang sangat ringan dan tawar. Anda akan diberikan beberapa bumbu pendamping di meja:

  1. Saeu-jeot (Udang Rebon Fermentasi): Jika di Indonesia kita menggunakan garam atau kecap asin, orang Korea memasukkan satu sendok kecil udang fermentasi ini untuk memberikan rasa asin dan umami (gurih) yang khas.
  2. Dadaegi (Pasta Cabai Merah): Suka pedas? Masukkan pasta cabai ini ke dalam sup panas Anda. Fungsinya sangat mirip dengan sambal di Indonesia, memberikan tendangan rasa pedas dan mengubah warna kuah menjadi kemerahan yang menggugah selera.
  3. Buchu (Kucai Bumbu): Jangan lupa masukkan segenggam kucai segar yang sudah dibumbui ke dalam mangkuk. Ini memberikan tekstur renyah dan aroma harum yang menyeimbangkan kuah kaldu daging.

Setelah semua bumbu masuk, tuangkan semangkuk nasi putih Anda ke dalam sup, aduk rata, dan nikmati sensasi kehangatannya.


3. Jejak Sejarah di Balik Semangkuk Sup

Dwaeji Gukbap bukan sekadar makanan biasa; ia adalah simbol ketahanan masyarakat Korea. Hidangan ini lahir pada masa Perang Korea di tahun 1950-an. Saat itu, banyak pengungsi yang lari ke kota Busan. Karena daging sapi sangat mahal dan langka, masyarakat mulai menggunakan sisa tulang babi dari pangkalan militer untuk membuat sup yang mengenyangkan dan murah. Dari makanan untuk bertahan hidup, kini ia bertransformasi menjadi kuliner kebanggaan warga Busan.


4. Destinasi Wajib: Seomyeon Gukbap Alley

Jika Anda berkunjung ke Busan dan mencari pengalaman kuliner yang autentik, datanglah ke "Seomyeon Gukbap Alley" (Jalan Gukbap Seomyeon). Di gang ini, Anda akan disambut oleh deretan restoran tradisional dengan panci-panci besar yang mengepulkan uap kaldu di depan pintunya. Duduk di kursi kayu, dikelilingi warga lokal yang sedang menikmati makan siang dengan lahap, akan memberikan pengalaman liburan yang tak terlupakan.

Menjelajahi kuliner lokal adalah salah satu cara terbaik untuk memahami sejarah dan budaya suatu negara. Selamat merencanakan perjalanan Anda ke Korea!

Komentar